KULKUL DALAM BUDAYA ORANG BALI

00.46 Add Comment




MAKNA KULKUL DALAM BUDAYA ORANG BALI

1.      Pengertian kulkul
Kulkul adalah alat komunikasi tradisional masyarakat Bali, berupa alat bunyian yang umumnya terbuat dari kayu atau bambu, dan benda peninggalan para leluhur. Di setiap organisasi tradisional di Bali, terdapat setidaknya sebuah kulkul. Selain di Bali, Kulkul yang lazimnya disebut dengan kentongan, terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia. Untuk itu, kulkul dijadikan alat komunikasi tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Ngayah Sebuah Kajian Filosofi

02.18 Add Comment

Tanpa karma, kemajuan sangat sulit jadinya. para jnani juga harus melalukan karma, tetapi laksana seekor anggsa yang keluar dari dalam air mereka dapat mendesiskan bulu-bulu sayapnya dan menjadi kering seperti ketika mereka masuk kedalam air.

Sing Dot

Unknown 04.12 2 Comments
Sing Dot


Gede Madia bekerja serabutan, artinya mau dan mampu bekerja apa saja. Tentu bagi rakyat kecil seperti dia, kalimat bekerja apa saja artinya terbatas pada jenis pekerjaan kasar.
Lebih lugas lagi, jenis pekerjaan yang mengandalkan tenaga dan bukan mengandalkan kepintaran otak. Maklum saja, karena dia hanya sempat menikmati pendidikan formal sampai SD kelas 4 di desa.

Nang Bangsing tekén I Belog

Unknown 07.27 1 Comment
Nang Bangsing tekén I Belog

Tuah ada tuturan satua anak masawitra ajaka dadua, madan Nang Bangsing tekén I Belog. Pasawitrané koné mula sangkaning nekéng tuas, pakrubuk ajaka dadua saling silih, saling tulungin yén pét ada silih tunggil tusing ngelah tur ngelah gegaén abot. Ento mawinan Nang Bangsing ajaka I Belog setata ngenah anut yén upamiang kadi yéhé di pasoné tusing taén makléncokan buat leketné masawitra.
Kacrita I Belog anak ia sajaan buka adanné belog pesan tur tutut. Sedek dina anu ajakina koné I Belog makena bubu tekén Nang Bangsing. I Belog nyanggupin pangajak Nang Bangsingé lakar makena bubu. Ditu pesu koné dot kenehné nawang baneh ané anggona mikatin bé tekén Nang Bangsing, laut ia matakon, “Beli, beli, apa anggon baneh bubuné, turin dija anaké makena bubu?”

Makna Mebanten

Unknown 11.10 Add Comment

Makna Banten Bagi Umat Hindu di Bali dan Masalahnya Kini

Dalam Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandeya, disebutkan bahwa Maha Rsi bersama pengikutnya membuka daerah baru pada Tahun Saka 858 di Puakan (Taro – Tegal Lalang, Gianyar, sekarang) kemudian mengajarkan cara membuat berbagai bentuk upakara sebagai sarana upacara, mula-mula terbatas kepada para pengikutnya saja, lama kelamaan berkembang ke penduduk lain di sekitar Desa Taro.

Jenis upakara yang menggunakan bahan baku daun, bunga, buah, air, dan api disebut “Bali”, sehingga penduduk yang melaksanakan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara itu disebut sebagai orang-orang Bali. Jadi yang dinamakan orang Bali mula-mula adalah penduduk Taro.

Pan Balang Tamak

Unknown 15.57 Add Comment
Pan Balang Tamak

Pan Balang Tamak
Ada reko anak madan Pan Balang Tamak, maumah di désa anu. Kacrita ia sugih pesan tur ririh makruna, muah tuara nyak kalah tekén pada timpalné di dé?a totonan. Baan té saking kruna daya upayané anggona ngamusuhin dé?ané. Yén upamaang dayan Pan Balang Tamaké, patuh buka bun slingkad lutungé, baan saking beneh. Ento kranané Pan Balang Tamak sengitanga baan désané. Yén tuah dadi baan désané, apanga ia makisid wiadin mati apanga sing ada enu nongos di désané totonan. Baan té tra ada mintulin pagaén désané, bakal ngaénang dosan Pan Balang Tamaké ento.

Sejarah Bali

Unknown 03.55 Add Comment

Sejarah Bali meliputi rentang waktu perkembangan kebudayaan masyarakat Bali. Sejarah Bali juga terkait dengan beberapa mitologi dan cerita rakyat, yang ada kaitannya dengan sejarah sebuah tempat atau peristiwa yang pernah ada di Bali.
Daftar isi

Reinkarnasi

Unknown 03.53 Add Comment

Reinkarnasi, Punarbhawa tidak terbatas ruang dan waktu, karena di alam roh tidak dikenal roh Arab, India, Cina, Bali dsb. Yang ada hanyalah roh besar, yang akan mengecil ketika mengisi wadag yang kecil, seperti semut misalnya; dan ia akan menjadi besar ketika mengisi wadag, seperti gajah. Roh tidak mengenal masa lampau, masa sekarang maupun masa depan; karena roh tidak terpengaruh oleh ketiga masa itu. Pedanda menegaskan bahwa punarbhawa tidak selalu terjadi dilingkungan keluarga saja, atau berasal dari leluhur. Punarbhawa bisa terjadi dari seluruh manusia di permukaan bumi ini. Bahkan punarbhawa bisa terjadi dari mahluk-mahluk lain, selain manusia.
Roh itu ibarat sekumpulan awan yang kemudian berubah menjadi titik-titik air hujan yang kemudian jatuh, ke bumi. Ada yang jatuh di laut, ada pula yang jatuh di darat. Dan titik air haujan, baik yang jatuh di laut maupun di darat sulit dikenali lagi karena sudah bercampur dengan air laut dan tanah. Baik air hujan yang jatuh di laut maupun di darat, nanti pada akhirnya berkumpul di laut juga. Yang jatuh di laut berarti kembali ke asal, karena awan berasal dari penguapan air laut, sedangkan yang jatuh di pegunungan akan menjadi tirtha. Manusia mati ibarat uap setitik air laut (roh individual) yang karena ringan naik keangkasa dan berkumpul dengan uap air-air laut (berbagai roh), membentuk awan (roh besar), yang lalu karena berat oleh muatan beban (karma wasana masa lalu), lalu jatuh kembali (punarbhawa) ke bumi. Gambaran ini merupakan gambaran perjalanan roh melalui punarbhawa yang tiada habisnya, sampai ketika suatu saat semua beban-beban yang memberatkan sang roh hilang lenyap, maka ia tidak akan jatuh lagi, tetapi menyatu dengan Hyang Widhi menuju moksa.
Oleh karena itu dalam pustaka Sarasamuccaya disebutkan, berbahagialah hidup menjadi manusia, karena dengan perbuatan baik akan mampu memperbaiki perbuatan buruk. Dan ini akan menjadi modal untuk kehidupan nanti melalui punarbhawa. Cerita tentang pelajaran punarbhawa ini disebutkan dalam pustaka Agastya Parwa (sebuah parwa aliran Siwa), melalui percakapan antara Bhagawan Agastya dengan putranya. Dan percakapan antara sang Bhagawan dengan putranya juga menjadi pelajaran untuk kita agar selalu terjadi komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya.

Punarbhawa di Bali
Pembuktian punarbhawa yang gamblang dan mudah dimengerti terdapat dalam keseharian kehidupan beragama umat HIndu di Bali. Untuk bayi yang berusia 12 hari sudah saatnya dicari sang punarbhawa-nya, yang menitis pada sang bayi; untuk mencari “sapa sira sane rawuh”. Umumnya akan didapat informasi tentang seseorang yang ingin “ngidih nasi” di keluarga ini ini melalui kelahiran sang bayi. Sebuah contoh kejadian nyata di India Selatan, seorang anak perempuan bernama Shanti Devi yang mampu mengenali benda-benda yang pernah dimilikinya dalam kehidupan sebelumnya di India Utara. Ia masih mengenali tempat-tempat tertentu dengan benda-benda tertentu, serta mengenali orang yang pernah hidup bersamanya.
Di Bali, setelah seorang anak dewasa, maka orang tuanya akan melihat betapa sang anak memiliki karakter, lagak dan gaya yang sama dengan seseorang yang mereka kenal tetapi sudah meninggal. Misalnya sang anak kelakuannya mirip dengan sang kakek atau nenek yang sudah almarhum. Ini merupakan cara mudah untuk meyakini eksistensi punarbhawa sebagai salah satu sradha umat Hindu.

Hidup Saat Ini
Kehidupan saat ini ibarat menulis permohonan untuk perjalanan kehidupan yang akan datang. Kita bersyukur kalau kehidupan nanti masih bisa menggunakan badan manusia, jangan sampai memakai badan binatang. Oleh karena itu harus diingat bahwa semua indrya ini adalah pinjaman dari Hyang Widhi; termasuk tubuh ini. Sehingga kalau kita tidak mampu memelihara “barang” pinjaman ini, maka kita pasti akan diberikan badan yang lebih jelek lagi; misalnya badan binatang atau tumbuh-tumbuhan. Dengan mengingat betapa “kecilnya” manusia ini dibanding dengan ciptaan yang ada di alam semesta ini, maka hendaknya manusia selalu sadar; bahwa semua ini akan berakhir, dan kita semua akan kembali menuju-Nya; untuk mengembalikan semua barang pinjaman tadi dan sekaligus mempertanggung-jawabkannya. Punarbhawa sebagai salah satu sradha yang harus selalu diyakini oleh umat Hindu, dan dipahami juga bahwa punarbhawa kita yang sekarang ini adalah proses untuk menuju punarbhawa berikutnya yang lebih baik

SUMBER
http://idabagusadi.com

Siap Selem

Unknown 02.43 1 Comment

-->
SIAP SELEM
Ada katuturang satua I Siap Selem ngelah pianak ptiung ukud makejang pianakne siteng-siteng lan krencengkrenceng. Sakewala ada aukud ane paling cerike tusing mabulu. Sawireh panakne ento tusing mabulu nyantos ke kampid, adanina I Olagan. Memene keadanin Siap Selem duaning bulune selem, batisne selem lan cucuk mase selem. I siap selem saja anteng lan jemet pesan ngekehang panakne amah-amahan. Kacarita jani ada I Kuuk maumah di natah abesik ngajak I Siap Selem. I Kuuk ngelah masih ia pianak ane enu cerik-cerik.

Filosofi Penjor

Unknown 01.26 Add Comment


--> Ada berbagai ulasan mengenai Penjor. Dan kita sepakat Penjor itu adalah simbul Gunung Agung atau Gunung saja. Uraian yang lain-lainnya seperti arti kata Penjor, dari apa Penjor dibuat dengan segala perlengkapannya tak perlu kita bahas.
Pada umumnya umat Hindu seperti kita ketahui, akan selalu memasang/memancang sebatang penjor disamping pintu masuk disetiap rumah menjelang hari Raya Galungan ataupun pada acara-acara keagamaan yang lainnya.

Filosofi Saput Poleng

Unknown 22.19 Add Comment

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beraneka ragam budaya dan tradisi masyarakat. Negara kita merupakan bangsa majemuk dengan penduduk sekitar 210 juta jiwa. Kebhinekaan memang merupakan kekayaan dan sumber kekuatan bangsa, namun harus kita akui bahwa kebhinekaan juga mengandung kerawanan jika kita tidak pandai menjaganya. Sepanjang perjalanan sejarah bangsa Indonesia semenjak berabad-abad yang lalu, bangsa kita pernah menjadi kelinci percobaan penjajah yang dengan mudahnya di adu domba. Dengan beragamnya